This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

Jumat, 13 November 2015

Pelajar Berkulit Hitam dan Program Tahsinul Qira’ah


 
Suatu ketika ada seorang pelajar yang berkebangsaan Afrika, khususnya dari Nigeria. Pada umumnya mereka sama, berkulit hitam. hampir setiap orang yang melihatnya mungkin akan membayangkan seperti orang yang ketinggalan, orang yang primitif sehingga tidak jarang mereka mengalami diskriminasi jika hidup di Negara-negara lain. Di Negaranya pun juga sering kita dengarkan terjadi konflik antar suku dan agama. Ini dituturkan langsung oleh mereka, sewaktu penulis berbincang-bincang dengan salah satu dari mereka.

Mungkin sebagian kita beranggapan mereka (yang berkulit hitam) kurang berpendidikan. Untuk orang Indonesia, akan membayangkan orang berkulit hitam itu yang tinggalnya di Marauke, daerah terluar dan terpinggir dari Indonesia, lebih tepatnya tanah Papua, Irian Jaya. Walau bagaimanapun, mereka tetaplah manusia yang perlu diperlakukan selayaknya manusia, tanpa ada diskriminasi ras maupun kulit.

Ada yang berbeda semasa penulis berada di negeri Jiran. Mereka yang dari benua Afrika kebanyakan datang ke Negeri Jiran untuk melanjutkan studi master maupun doktoralnya. Sangat berbeda dengan anggapan penulis selama ini sebagaimana yang penulis sebutkan diatas. Satu hal yang menarik dan membuat penulis terkejut. Seperti hari-hari biasa, penulis sering bertemu dengan pelajar Nigeria ini entah di lif, jalan, maupun ketika berada di Surau –sejenis Mushalla-. Mereka kebanyakan berpakaian islami, berjubah dan memakai songkok atau penutup kepala. Bahkan ketika perkuliahan pun mereka dengan tanpa ada perasaan terasing, tetap menjadi seperti apa adanya, memakai pakaian muslim.

Ada satu pelajar dari Nigeria, bertetangga kamar dengan penulis. Kesehariannya dia seperti pelajar ‘awwam’ lainnya. Tidak ada yang menonjol darinya, baik dari sisi pakaian maupun tingkah laku. Sama seperti pelajar biasa lainnya. Pelajar ini sering dan senang bermain bola, bahkan terkadang jika sudah dekat waktu azan maghrib, dia hanya memakai kaos dan celana puntung ketika hendak shalat. Tapi ada yang aneh sekaligus membuat penulis geleng-geleng kepala. Suatu ketika, Imam Surau kami menyampaikan informasi tentang program Tahsinul Qiraah. In syaa Allah kegiatan tahsinnya akan dimulai selepas shalat maghrib hingga isya.

Disinilah kejadian uniknya. Ketika penulis hendak ikut program Tahsinul Qiraah, penulis sempat kembali dulu ke kamarnya untuk mengambil mushaf kemudian kembali lagi ke Surau. Pas sampai di Surau, ternyata yang mengajar pelajar lain perbaikan bacaan adalah pelajar tetangga kamar penulis, yang kesehariannya tidak ada yang istimewa. Bahkan tidak menunjukkan tanda-tanda pintar ngaji. Tapi disinilah kuasa Allah yang membukakan pikiran dan sudutpandang lain kepada penulis bahawa janganlah melihat seseorang dari luarnya saja. Ini adalah pengalaman nyata yang membuat penulis geleng-geleng kepala.

Ketika proses pembelajaran, dia mencontohkan terlebih dahulu cara mengaji yang benar sesuai qiraat Hafs –salah satu dari tujuh qiraat dalam membaca al Qur’an-. Setelah itu barulah satu satu dikoreksi bacaannya, bahkan imam Surau waktu itu pun tidak lepas dari kesalahan Makhraj Huruf. Sungguh diluar dugaan, pelajar yang kesehariannya terlihat biasa-biasa saja, ternyata memiliki kemampuan bacaan qur’an yang bagus dan memiliki suara yang merdu.

Dialah pelajar dari Benua Afrika, Nigeria. Berkulit hitam, yang sering didiskriminasi. Tapi hati mereka sering terpaut dengan sang Penciptanya. Masjid kampus ramai dengan pelajar berkulit hitam ketika shalat Zuhur dan Ashar. Mereka semua taat dalam beribadah lagi pandai dalam membaca qur’an sesuai tajwid. Bahkan tidak sedikit dari mereka yang hafidz qur’an, yang mengambil jurusan teknik, computer, matematika, fisika dan ilmu-ilmu lainnya.

Kisah diatas sesuai dengan firman Allah SWT dalam Surah Al Hujuran ayat 11:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا لَا يَسْخَرْ قَوْمٌ مِنْ قَوْمٍ عَسَى أَنْ يَكُونُوا خَيْرًا مِنْهُمْ وَلَا نِسَاءٌ مِنْ نِسَاءٍ عَسَى أَنْ يَكُنَّ خَيْرًا مِنْهُنَّ
Hai orang-orang yang beriman, janganlah sekumpulan orang laki-laki merendahkan kumpulan yang lain, boleh jadi yang ditertawakan itu lebih baik dari mereka. Dan jangan pula sekumpulan perempuan merendahkan kumpulan lainnya, boleh jadi yang direndahkan itu lebih baik.” (QS. Al Hujurat: 11)

Dan juga Sabda Nabi SAW kepada Abu Jurayy yang meminta wasiat dari Nabi SAW:
لاَ تَسُبَّنَّ أَحَدًا
Janganlah engkau menghina seorang pun.


Semoga ini bisa menjadi pelajaran buat kita, menjadikan kita menjadi orang yang lebih tawadhu lagi. Tidak gampang menganggap orang lain itu lebih rendah dari kita lantaran dari penampilan luarnya saja. Semoga Allah memberikan kita keistiqamahan dan memberikan kita taufiqNya. Amin ya rabbal alamin.

Kamis, 22 Oktober 2015

Cara membaca Efisien, Cepat dan Menghemat Waktu



Coba pikirkan tentang seberapa banyak anda membaca setiap hari.
Mungkin anda membaca koran untuk mengetahui apa yang sedang terjadi di Indonesia atau dunia. Anda menelusuri email yang tak terhitung jumlahnya dari rekan-rekan. Kemudian anda juga mungkin membaca buku, laporan, proposal, majalah, dan surat-surat yang membentuk hari-hari anda.
Ketika anda mengingat hal tersebut, membaca bisa menjadi keterampilan yang berhubungan dengan pekerjaan yang paling sering anda gunakan! Membaca juga adalah keterampilan dimana kebanyakan dari kita melakukannya sejak kita menginjak usia 12 tahun.
Setelah semua itu, jika kita dapat membaca dan memahami textbooks, apakah kita sudah menjadi pembaca yang baik?
Mungkin tidak, dan mengingat waktu membaca sering dikonsumsi dalam kehidupan kita sehari-hari, maka membaca menjadi keterampilan yang mutlak harus kita miliki dan tingkatkan.
Tapi untuk menjadi pembaca yang lebih baik, apa yang harus dilibatkan?
Menjadi pembaca yang lebih baik berarti semakin cepat dan efisien dalam membaca, tanpa mengurangi intisari dari apa yang anda baca. Pada artikel ini, kita akan melihat bagaimana anda dapat melakukan hal ini, dan bagaimana anda dapat melupakan kebiasaan membaca lama anda yang kurang baik.

Bagaimana Kita Membaca

Meskipun anda menghabiskan sebagian waktu anda setiap hari dengan membaca, apakah anda pernah berpikir bagaimana cara anda membaca?
Bagaimana mata anda memahami bentuk huruf, dan kemudian menempatkan huruf-huruf tersebut bersama untuk membentuk sebuah kalimat yang dapat anda mengerti?
Ketika Anda benar-benar berpikir tentang hal ini, membaca menjadi keterampilan yang cukup kompleks. Sebelumnya, para ilmuwan percaya bahwa ketika anda membaca, kedua mata Anda terfokus pada huruf tertentu dalam kata. Penelitian terbaru menunjukkan hal semacam itu tidak terjadi.
Para ilmuwan sekarang percaya bahwa masing-masing mata anda mengunci ke huruf yang berbeda pada saat yang sama, biasanya dua karakter terpisah. Otak anda kemudian memadukan huruf-huruf tersebut bersama-sama untuk membentuk suatu kata. Hal ini terjadi hampir seketika.

Keuntungan Membaca Cepat

Kebanyakan orang membaca pada tingkat rata-rata 250 kata per menit. Ini berarti anda menghabiskan waktu 1-2 menit untuk membaca satu halaman dalam sebuah buku atau dokumen.
Namun, bayangkan jika anda bisa menggandakan tingkatan anda menjadi 500 kata per menit. Anda bisa dengan cepat membaca semua konten tersebut dalam separuh waktu. Anda kemudian bisa menggunakan waktu yang dihemat untuk tugas-tugas lain, atau mengambil beberapa menit ekstra untuk bersantai.
Keuntungan penting lainnya dari membaca cepat adalah anda dapat lebih memahami struktur keseluruhan dokumen. Hal ini menghasilkan pemahaman yang “lebih besar”, dimana anda bisa mendapatkan keuntungan untuk pekerjaan dan karier anda.
Catatan:

Membaca cepat adalah keterampilan yang berguna dan berharga. Namun, mungkin ada saat-saat tidak tepat ketika menggunakan teknik ini. Misalnya, membaca dokumen yang sangat penting dimana anda perlu membaca dengan perlahan, sehingga anda dapat sepenuhnya memahami setiap detail.

Memecahkan Kebiasaan Membaca yang Kurang Baik

Jika anda seperti kebanyakan orang, maka anda mungkin memiliki kebiasaan membaca yang memperlambat anda. Menjadi pembaca yang lebih baik berarti bagaimana mengatasi kebiasaan buruk tersebut, sehingga anda dapat membuka jalan baru, yaitu cara yang efektif untuk membaca.
Di bawah ini adalah beberapa kebiasaan umum membaca yang kurang baik, berikut diskusi mengenai apa yang dapat anda lakukan untuk mengatasinya.
Sub-Vokalisasi
Sub-vokalisasi adalah kebiasaan mengucapkan setiap kata di kepala anda saat anda membacanya. Kebanyakan orang melakukan hal ini sampai batas-batas tertentu.
Bila anda melakukan sub-vokalisasi, anda “mendengar” kata yang diucapkan dalam pikiran anda. Ini membutuhkan waktu lebih banyak daripada yang diperlukan, karena anda sebetulnya dapat memahami kata lebih cepat dari yang anda katakan tersebut.
Untuk mematikan suara di kepala anda, anda harus terlebih dahulu memahami bahwa hal ini terjadi pada anda, kemudian anda harus berlatih “tidak berbicara”. Ketika Anda duduk untuk membaca, katakan kepada diri sendiri bahwa Anda tidak akan melakukan sub-vokalisasi. Anda perlu berlatih ini sampai kebiasaan buruk ini hilang. Membaca sekumpulan kata juga akan membantu, karena sulit untuk menyuarakan sekumpulan kata.
Dengan menghilangkan sub-vokalisasi saja, anda dapat meningkatkan kecepatan membaca dengan jumlah yang mencengangkan. Jika tidak, anda terbatas pada membaca pada kecepatan yang sama seperti berbicara, yaitu sekitar 250-350 kata per menit. Satu-satunya cara untuk menerobos hambatan ini adalah untuk berhenti mengatakan kata-kata di kepala anda saat anda membaca.
Membaca Kata Demi Kata
Bukan hanya lambat untuk membaca kata demi kata, namun ketika anda berkonsentrasi pada kata kata yang terpisah, anda sering kehilangan konsep keseluruhan dari apa yang dimaksud. Orang yang membaca setiap kata sebagai unit yang berbeda dapat kurang memahami dibanding mereka yang membaca lebih cepat dengan “mengumpulkan” bersama-sama kata-kata dalam satu blok. (Pikirkan tentang bagaimana mata anda bergerak saat anda membaca artikel ini, apakah anda benar-benar membaca setiap kata, atau anda membaca blok dari dua, tiga, atau lima kata?)
Berlatihlah memperluas jumlah kata yang dapat anda baca pada suatu waktu. Anda juga dapat menemukan bahwa anda dapat meningkatkan jumlah kata yang dapat anda baca dengan memposisikan teks sedikit lebih jauh dari mata anda. Semakin banyak kata-kata yang dapat anda baca di setiap blok, semakin cepat anda akan membaca!
Gerakan Mata yang Tidak Efisien
Pembaca yang lambat cenderung fokus pada setiap kata, dan bekerja mengartikan maksudnya pada setiap baris. Mata dapat menjangkau kira-kira 3 cm pada satu waktu, dimana rata-rata meliputi empat atau lima kata. Terkait dengan hal ini, maka kenyataannya adalah sebagian besar pembaca tidak menggunakan penglihatan tepi mereka untuk melihat kata-kata di ujung setiap baris.
Untuk mengatasi hal ini, “lunakkan” pandangan anda ketika membaca – dengan merelaksasi wajah dan memperluas pandangan anda, anda akan mulai melihat blok kata-kata bukannya melihat setiap kata sebagai unit yang berbeda. Ketika anda mulai terbiasa dalam hal ini, mata anda akan melalui halaman per halaman menjadi lebih cepat dan lebih cepat.
Ketika anda sudah mendekati akhir baris, biarkan penglihatan tepi anda mengambil alih untuk melihat set terakhir dari kata-kata. Dengan cara ini anda dapat dengan cepat memindai dan turun ke baris berikutnya.
Regresi
Regresi adalah membaca kembali materi yang tidak diperlukan.
Kadang-kadang orang masuk ke dalam kebiasaan membaca kembali ke kata-kata yang baru saja mereka baca, sementara, di lain waktu, mereka mungkin melompat kembali beberapa kalimat, hanya untuk memastikan bahwa mereka telah membaca sesuatu yang benar. Ketika anda mundur seperti ini, anda kehilangan aliran dan struktur teks, dan pemahaman anda terhadap materi secara keseluruhan dapat menurun.
Berilah perhatian pada masalah regresi ini, dan tidak membiarkan diri anda untuk membaca kembali materi kecuali jika benar-benar diharuskan.
Untuk mengurangi jumlah mata anda melompat kembali, gunakan pointer sepanjang garis yang anda baca. Ini bisa berupa jari, atau pensil. Mata anda akan mengikuti ujung pointer anda dan akan membantu anda menghindari melompat-lompat kembali ke belakang. Kecepatan anda membaca menggunakan metode ini akan sangat tergantung pada kecepatan anda menggerakkan pointer.
Konsentrasi yang Lemah
Jika anda mencoba untuk membaca sambil menonton TV, anda akan tahu betapa sulitnya untuk berkonsentrasi pada satu kata, apalagi pada banyak rangkaian kalimat. Membaca harus dilakukan dalam lingkungan di mana gangguan eksternal dijaga agar tetap minimum.
Untuk meningkatkan konsentrasi saat anda membaca, berhenti melakukan multitasking (melakukan 2 atau lebih aktivitas saat bersamaan) saat membaca, dan hilangkan setiap gangguan. Hal ini sangat penting, karena ketika anda menggunakan teknik mengumpulkan blok kata-kata secara bersama-sama dan berhenti melakukan sub-vokalisasi sambil melakukan aktivitas lain, anda mungkin menemukan bahwa anda sudah membaca beberapa halaman sebelum menyadari bahwa anda tidak memahami sesuatu dengan benar.
Perhatikan “gangguan internal” juga. Jika anda mengingat-ngingat sebuah diskusi menarik, atau jika anda bertanya-tanya apa yang akan anda buat untuk makan malam, hal ini juga akan membatasi kemampuan anda untuk memproses informasi.
Sub-vokalisasi sebenarnya memaksa otak anda untuk memberi perhatian apa yang anda baca, dan itulah mengapa orang sering mengatakan bahwa mereka dapat membaca dan menonton TV pada waktu yang sama. Namun untuk menjadi pembaca yang efisien, Anda perlu menghindari hal ini.
Membaca linear
Kita diajarkan untuk membaca ke samping dan ke bawah, mengamati setiap kata, kalimat, paragraf dan halaman secara berurutan.
Ketika anda melakukan hal ini, anda akan mengeluarkan perhatian yang sama baik untuk materi inti maupun materi tambahan. (Seringkali lebih banyak informasi yang disajikan lebih dari yang benar-benar anda perlu tahu).
Atasi hal ini dengan memindai judul pada halaman, serta dengan mencari poin-poin dan kata-kata dalam huruf tebal. Tidak ada aturan yang mengatakan bahwa anda harus membaca dokumen sesuai yang diinginkan penulis, sehingga pindai dengan cepat, dan putuskan apa yang diperlukan dan apa yang tidak. Hanya beri perhatian pada materi-materi kunci.
Ketika anda membaca, cari catatan kecil yang penulis tambahkan untuk membuat tulisan mereka menarik. Jika Anda mendapatkan poin ini, maka tidak perlu untuk membaca conto-contoh. Demikian pula, putuskan apa yang perlu anda baca ulang. Akan jauh lebih baik untuk membaca satu paragraf penting dua kali daripada membaca delapan paragraf pada konsep yang sama.

Kunci Sukses Membaca Cepat

Mengetahui “bagaimana” membaca cepat hanya langkah pertama. Anda harus berlatih untuk menguasainya dengan baik. Berikut adalah beberapa tips yang akan membantu anda menghentikan kebiasaan membaca yang kurang baik dan menguasai keterampilan membaca cepat seperti telah dibahas di atas.
• Latihan, latihan, latihan – Anda harus menggunakan keahlian tersebut secara teratur. Anda telah menghabiskan waktu beberapa tahun untuk belajar membaca, dan tentu saja akan memakan waktu untuk meningkatkan kemampuan membaca anda.
• Pilih materi yang mudah untuk memulai – ketika anda mulai belajar membaca cepat, jangan menggunakan textbook yang menantang. Bacalah sesuatu seperti novel atau majalah, yang anda dapat nikmati dan pahami dalam satu kali baca.
• Materi yang tepat – tidak semua yang anda baca cocok untuk dibaca secara cepat.
• dokumen legal, draft laporan tahunan, atau bahkan surat yang anda terima dari orang yang dicintai – semua ini lebih baik dibaca secara keseluruhan termasuk metode sub-vokalisasi.
• Jika anda perlu memahami maksud dengan sepenuhnya, mengingat informasi, mendiskusikan secara rinci, menganalisis secara menyeluruh, atau sekedar menikmati prosa dengan cara penulis maksudkan, maka membaca cepat adalah pendekatan yang salah. (Di sini, perlu untuk memilih strategi yang tepat dalam membaca sebelum anda mulai).
• Gunakan pointer atau alat lainnya untuk membantu mendorong kecepatan membaca anda – ketika anda dengan cepat menarik sebuah kartu yang digunakan sebagai alat bantu ke bagian bawah halaman, atau menggerakkan jari anda bolak-balik, anda memaksa mata anda dan otak untuk mengikuti.
• Ambil satu langkah ke belakang dan gunakan struktur materi tersebut – ini termasuk mendapatkan informasi secara cepat mengenai layout teks, mencari kata-kata yang dihuruf tebal, judul, sub judul, dan mencari cara-cara di mana penulis melakukan transisi dari satu topik ke topik berikutnya.
• Ketika anda mulai belajar membaca cepat, adalah bijaksana untuk membandingkan dengan kecepatan membaca anda saat ini. Dengan cara ini anda dapat memberitahu apakah latihan anda berhasil atau tidak, dan anda mendapatkan kesan positif dari teman-teman dan keluarga anda ketika anda memberitahu mereka bahwa anda saat ini dapat membaca lebih cepat.

Poin Penting

Membaca cepat adalah keterampilan yang bisa dipelajari dan sebagian besar akan menghilangkan kebiasaan kurang baik yang anda pelajari sejak awal anda belajar membaca. Menjadi pembaca cepat sebetulnya bukanlah tujuan utamanya, melainkan anda ingin menjadi pembaca yang lebih efisien.
Ada beberapa teknik bagus yang dapat anda gunakan ketika berlatih membaca cepat, termasuk membaca blok kata-kata, dan menghapus kebiasaan sub-vokalisasi.
Apapun teknik yang diterapkan, anda selalu harus paham sebelumnya tujuan membaca anda dan putuskan apakah membaca cepat adalah pendekatan yang paling tepat.
Bila diterapkan dengan benar dan dipraktekkan secara cermat, membaca cepat secara signifikan dapat meningkatkan efektivitas keseluruhan waktu anda, karena memungkinkan anda untuk bekerja lebih efisien di area lain.
Sumber:
http://www.akuinginsukses.com/trik-membaca-cepat/

Minggu, 18 Oktober 2015

z-Skor

Shape z-score




z-Skor

Digunakan untuk mengetahui lebih detail dimana posisi suatu skor dalam suatu distribusi. Posisi dalam suatu distribusi itu sendiri ditunjukan dengan simbol +/- yang menunjukan bahwa kalau positif berada di atas mean dan kalo negatif menandakan sebaliknya. Z-score juga memberi tahu berapa jarak skor itu sendiri dengan mean.
Rumus mengubah satu data menjadi z-skor : (x-µ) / s
Contohnya :
Suatu kumpulan data memiliki rata-rata 76. Data tersebut memiliki s sebesar 3. Tentukan z-score untuk data bernilai 82 dan 73!
Cara menentukannya, kita harus melihat jarak antara rata-rata dengan skor. Kita ambil data pertama contohnya 82.
Rumusnya adalah : x-µ = 82-76 = +6
Setelah mengetahui jaraknya, kita harus melihat berapa s yang dimiliki oleh data tersebut. Karena dalam soal ini, s bernilai 3, berarti +6 dibagi dengan 3 dan menghasilkan +2. Berarti z-score untuk nilai 82 adalah +2.
Sedangkan kalau untuk 73, jaraknya menjadi : x-µ = 73-76 = -3
Setelah itu langkahnya sama dengan atas dan menjadikan z-score untuk nilai 73 adalah -1.
Hubungan antara z-score dengan grafik distribusi :
Formula z-skor
Setelah kita mengetahui bagaimana caranya mengubah suatu data menjadi z-skor, sekarang kita melihat bagaimana caranya mengubah z-skor menjadi data. Kita menggunakan rumus : x = µ + zs
Penggunaan z-skor dalam standard distribusi :
  1. Ukuran atau bentuk grafik
Ukuran atau bentuk grafik dari z-skor dengan suatu distribusi akan selalu sama
  1. Mean
Dalam z-skor, meannya selalu memiliki nilai 0.
  1. Standard deviasi
Dalam z-skor, jarak antara satu skor dengan skor lainnya pasti hanya satu.
Standar distribusi
Terdiri dari skor yang telah berubah untuk menciptakan nilai-nilai yang telah ditentukan. Salah satu keuntungan dari standar distribusi ialah kita bisa membandingkan skor yang berbeda atau individu yang berbeda meskipun mereka datang dari distribusi yang sangat berbeda.
Contohnya : ada seorang anak yang memiliki dua nilai berbeda di dua bidang studi kuliah. dua-duanya memiliki data µ dan s. Dengan begitu, kita bisa menentukan dimana skor nilai anak tersebut di kedua bidang tersebut. Setelah kita dapat melihat letaknya, kita bisa membandingkan kedua hal tersebut. Namun suatu hal yang harus diingat, kita tidak bisa membandingkan skor yang diperoleh anak tersebut. Kita cuma bisa membandingkan mean dan standar deviasinya karena di dua bidang studi kuliah tersebut sama-sama memiliki mean dan standar deviasi yg sama.
Menghitung z-skor untuk sampel
Seperti yang telah dikatakan di bab sebelumnya, perbedaan yang diperoleh dari perhitungan populasi dan sampel hanya masalah simbol yang mewakilinya.
Untuk menghitung z-skor, kita bisa menggunakan rumus : (x-M) / s
Apabila ingin menghitung nilai x dari z-skor kita menggunakan rumus = M + zs
Standar distribusi sampel
  1. Grafik sampel z-skor sama dengan grafik sampel yang asli
  2. Sampel z-skor memiliki M=0
  3. Sampel z-skor memiliki s=1

Statistik inferensial
Dalam statistik inferensial, z-skor memberikan metode objektif untuk menentukan seberapa baik nilai tertentu mewakili penduduknya. A z-skor mendekati 0 menunjukkan bahwa skor dekat dengan mean populasi dan karena itu repesentative. A z-score di luar 2 menunjukkan bahwa skor ekstrim dan terasa berbeda dengan nilai lain dalam distribusi.

Sumber:
http://tugasdeltanne.blogspot.my/2011/02/z-skor.html

Perguruan Tinggi: Berhijrahlah!



Toga dan Gulungan



Tak diragukan lagi, dunia kini mengakui, Perguruan Tinggi memiliki peran penting bagi kemajuan suatu bangsa. Bahkan, bagi negara tertentu, Perguruan Tinggi menjadi alat penting dalam meneruskan dominasi internasional. Philip Coombs, mantan wakil Menteri Luar Negeri AS semasa pemerintahan John F Kennedy, menyatakan, bahwa pendidikan dan budaya adalah "aspek keempat" dari politik luar negeri, disamping ekonomi, diplomasi dan aspek militer. (Philip Coombs, The Fourth Dimen sion of Foreign Policy: Education and Cultural Affairs (New York: Harper and Row, 1964. Dikutip dari pidato Profesorial Prof. Wan Mohd Nor Wan Daud di UTM, 2013, Islamization Of Contemporary Knowledge And The Role Of The University In The Context Of De-Westernization And Decolonization).

Dalam perspektif Islam, pendidikan di tingkat Perguruan Tinggi sejatinya adalah pendidikan untuk orang dewasa. Nabi Muhammad shalallahu'alaihi wasallam, sebagai pendidik terbaik, mencontohkan bagaimana dalam waktu singkat mampu mengubah bangsa Arab, dari bangsa tak diperhitungkan, menjadi bangsa hebat di tingkat global. Bahkan, dalam beberapa tahun saja, Nabi shalallahu'alaihi wasallam mengubah masyarakat jahiliyah menjadi berbudaya ilmu, masyarakat pembelajar. Masyarakat Madinah dikenal haus akan tulis-menulis dan keilmuan. Tradisi miras dihapus dalam tempo singkat.

Karikatur Sahabat menuntut Ilmu
Yang dididik Rasulullah shalallahu'alaihi wasallam ketika itu rata-rata adalah manusia dewasa – yang sudah akil baligh. Rasul tidak memulai dakwahnya dengan mendidik anak-anak usia TK, meskipun tentu saja, usia TK dan anak-anak adalah 'usia emas' untuk masa pembelajaran. Sebab, kualitas dan hasil pendidikan anak-anak, pada akhirnya ditentukan oleh kualitas gurunya. Dan guru adalah orang dewasa dan merupakan produk pendidikan pada tingkat tinggi. Itulah kedudukan penting pendidikan pada peringkat tinggi, yang secara kelembagaan kemudian diwujudkan dalam bentuk Perguruan Tinggi. Karena itu, betapa memilukan, ketika didapati sejumlah Perguruan Tinggi menyalahgunakan fungsinya, dengan melakukan 'jual-beli' ijazah secara ilegal.

Perburuan ijazah ini juga tidak bisa dilepaskan dari kebijakan yang terlalu menekankan pada aspek formalitas dalam dunia pendidikan, bukan pada kualitas keilmuaan dan akhlak. Orang dihargai dan diakui hanya karena adanya gelar akademik dan ijazah formal. Kini, sehebat apa pun ilmu dan akhlak seseorang, akan tersingkir dari dunia pendidikan, karena tidak bisa menunjukkan selembar kertas ijazah formal atau tidak punya gelar akademik tertentu.

Tidak sedikit pakar pendidikan yang mengingatkan bahaya formalisme yang berlebihan dalam dunia pendidikan. Dunia pendidikan adalah dunia ilmu. Dan dunia ilmu memerlukan ruang kreativitas dan kebebasan akademik dalam menerapkan konsep-konsep pendidikan. Sebab, kampus bukan pabrik mobil yang bisa diprogram sekian bulan harus menghasilkan sekian ratus mobil. Sekolah dan kampus adalah tempat menempa manusia dengan tujuan yang mulia.

Memang, sesuai fungsinya, menurut UU No 12/2012 tentang Pendidikan Tinggi, Perguruan Tinggi bertugas untuk mewujudkan: 

(a) Berkembangnya potensi mahasiswa agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa dan berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, terampil, kompeten, dan berbudaya untuk kepentingan bangsa; 

(b) Dihasilkannya lulusan yang menguasai cabang Ilmu Pengetahuan dan/atau Tekno logi untuk memenuhi kepentingan nasional dan peningkatan daya saing bangsa; 

(c) Dihasilkannya Ilmu Pengetahuan dan Tek nologi melalui Penelitian yang memper ha tikan dan menerapkan nilai Humanio ra agar bermanfaat bagi kemajuan bangsa, ser ta kemajuan peradaban dan kesejahteraan umat manusia; dan 

(d) Terwujudnya Pengabdian kepada Masyarakat berbasis penalaran dan karya Penelitian yang bermanfaat dalam memajukan kesejahteraan umum dan mencerdaskan kehidupan bangsa."

Sungguh indah kata-kata dalam UU Pendidikan Tinggi itu. Logisnya, kampus adalah tempat menempa mahasiswa mahasiswa menjadi manusia-manusia mulia luar biasa. Catat sekali lagi! Lulusan Perguruan Tinggi haruslah punya kriteria : Beriman dan ber taqwa serta berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, terampil, kompeten dan berbudaya.

Kampus UTM
Di kampus mana tujuan itu bisa dilaksanakan? Apakah para pejabat tinggi kita bisa menjadi contoh seperti itu? Sepatutnya, Presiden atau Menteri terkait segera merumuskan kebijakan yang lebih terperinci untuk mewujudkan amanah UU Pendidikan Tinggi. Sebagai contoh, untuk menanamkan iman, taqwa, dan akhlak mulia, diperlukan aspek keteladanan dosen, pembiasaan, dan ketegasan sanksi bagi pelanggar. Pemerintah bisa buat target sederhana : tahun 2017, tidak ada lagi lulusan Perguruan Tinggi yang muslim, yang tidak melaksanakan shalat, tidak bisa baca al-Quran, dan berakhlak bejat (berzina, narkoba, durhaka pada orang tua, dan sebagainya).

Sesuai tujuan Pendidikan Tinggi, sepatutnya, aspek-aspek formalitas dan standar proses pendidikan yang kaku bisa dilonggarkan. Mahasiswa yang sangat cerdas dan berakhlak mulia, dipersilakan menyelesaikan studinya lebih cepat dari yang lain. Tidak perlu menunggu empat tahun untuk S-1. Sebaliknya, yang memang lemah, silakan saja menyelesaikan selama enam atau tujuh tahun.

Rasio dosen mahasiswa tidak bisa ditentukan secara kaku. Banyak bukti, seorang Kyai atau ulama hebat mampu mendidik puluhan santrinya menjadi manusia-manusia yang menguasai berbagai bidang ilmu, meski ia hanya seorang diri! Dunia kampus sepatutnya lebih menghargai manusia yang berilmu tinggi dan berakhlak mulia.

Itu bisa dibuktikan dari karya ilmiah dan pengakuan dari komunitas ilmuwan. Jika kertas dan gelar formal lebih dipentingkan, maka tidak dapat dihindari, kampus akan menjadi arena perburuan gelar dan jabatan akademik. Jual beli ijazah dan gelar akademik – baik legal maupun ilegal – akan mendominasi budaya pendidikan tinggi.

Adalah memilukan jika setiap tahun kita meluluskan ribuan sarjana guru – termasuk guru-guru agama – tetapi sekolah-sekolah kita kesulitan mencari guru-guru yang baik; yang beriman, bertaqwa, berakhlak mu lia, ikhlas beramal (sesuai dengan semboyan Kementerian Agama). Bandingkan dengan lulusan Mu'allimin dari berbagai pesantren dan Madrasah di masa lalu, yang siap meng abdi dan diterjunkan ke tengah masyarakat; menjadi guru dan pendidik masyarakat.

Tidak ada salahnya kita melakukan introspeksi (muhasabah). Saatnya Perguruan Tinggi Berhijrah; dari alam materialisme dan formalisme sempit; dari arena perburuan ijazah dan gelar akademik; menuju alam keilmuan, adab, dan akhlak mulia. Saatnya kampus menjadi taman ilmu (the garden of knowledge), di mana para dosen dan mahasiswa menjadi manusia-manusia yang cinta, bahkan haus ilmu. Bukan haus jabatan dan harta.

Dr. Adian Husaini
Ketua Program Doktor Pendidikan Islam – Universitas Ibn Khaldun Bogor

Sabtu, 17 Oktober 2015

Ilustrasi Prioritas Kehidupan

Ilustrari

Seorang guru besar di depan audiensnya memulai materi kuliah dengan menaruh topless yang bening & besar di atas meja.
Lalu sang guru mengisinya dengan bola tenis hingga tidak muat lagi. Beliau bertanya: "Sudah penuh?"
Audiens menjawab: "Sudah penuh".
Lalu sang guru mengeluarkan kelereng dari kotaknya & memasukkannya ke dalam topless tadi. Kelereng mengisi sela-sela bola tenis hingga tidak muat lagi. Beliau bertanya: "Sudah penuh?"
Audiens menjawab: "Sudah penuh".
Setelah itu sang guru mengeluarkan pasir pantai & memasukkannya ke dalam topless yang sama. Pasir pun mengisi sela-sela bola & kelereng hingga tidak bisa muat lagi. Semua sepakat kalau topless sudah penuh & tidak ada yang bisa dimasukkan lagi ke dalamnya.
Ilustrasi
Tetapi terakhir sang guru menuangkan secangkir air kopi ke dalam toples yang sudah penuh dengan bola, kelereng & pasir itu.
Sang Guru kemudian menjelaskan bahwa:
"Hidup kita kapasitasnya terbatas seperti topless. Masing-masing dari kita berbeda ukuran toplesnya:
- Bola tenis adalah hal-hal besar dalam hidup kita, yakni tanggung-jawab terhadap Tuhan, orang tua, istri/suami, anak-anak, serta makan, tempat tinggal & kesehatan.
- Kelereng adalah hal-hal yang penting, seperti pekerjaan, kendaraan, sekolah anak, gelar sarjana, dll.
- Pasir adalah yang lain-lain dalam hidup kita, seperti olah raga, rekreasi, Facebook, BBM, WA, nonton film, model baju, model kendaraan dll.
- Jika kita isi hidup kita dengan mendahulukan pasir hingga penuh, maka kelereng & bola tennis tidak akan bisa masuk. Berarti, hidup kita hanya berisikan hal-hal kecil. Hidup kita habis dengan rekreasi dan hobby, sementara Tuhan dan keluarga terabaikan.
- Jika kita isi dengan mendahulukan bola tenis, lalu kelereng dst seperti tadi, maka hidup kita akan lengkap, berisikan mulai dari hal-hal yang besar dan penting hingga hal-hal yang menjadi pelengkap.
Karenanya, kita harus mampu mengelola hidup secara cerdas & bijak. Tahu menempatkan mana yang prioritas dan mana yang menjadi pelengkap. 
Jika tidak, maka hidup bukan saja tidak lengkap, bahkan bisa tidak berarti sama sekali".
Lalu sang guru bertanya: "Adakah di antara kalian yang mau bertanya?"
Semua audiens terdiam, karena sangat mengerti apa inti pesan dalam pelajaran tadi.
Namun, tiba-tiba seseorang nyeletuk bertanya: "Apa arti secangkir air kopi yang dituangkan tadi?"
Sang guru besar menjawab sebagai penutup: "Sepenuh dan sesibuk apa pun hidup kita, jangan lupa masih bisa disempurnakan dengan bersilaturahim sambil "minum kopi" dengan tetangga, teman, sahabat yang hebat. Jangan lupa sahabat lama.
Saling bertegur sapa, saling senyum bila berpapasan, betapa indahnya hidup ini!
Sumber:
https://www.facebook.com/photo.php?fbid=10154312435748957&set=pcb.10154312435888957&type=3

Jumat, 16 Oktober 2015

Filsofi Ibu Jari, Sebuah Renungan Penggugah Jiwa

Pernahkah kita mengalami kejadian ketika Ibu Jari kita mengalami sakit? Ibu jari kita terluka, tergores, teriris dan lain sebagainya? Mungkin sebagian besar kita tentu pernah mengalaminya. Tapi tahukah anda filosofi dibalik Ibu Jari tersebut? Mungkin sebagian kecil (atau mungkin juga besar) kita belum tahu. Nah, berikut akan diulas apa sebenarnya filosofi dari Ibu Jari kita.

Ibu Jari tergores
Suatu ketika ada seseorang yang tidak sengaja Ibu Jarinya teriris sehingga terluka. Akibatnya dia kesulitan melakukan aktivitas biasanya. Bayangkan yang biasanya dia bisa melakukan aktivitas seperti memaku, membuka dan mencabut uang dari dompet, menulis, memencet tombol dan aktivitas lain yang jika sekiranya Ibu jari tidak turut andil membantu jari lainnya maka tentu perkerjaan itu sangatlah sulit untuk dilakukan. Bagaimana pendapat para penulis lain berkaitan dengan filosofi Ibu jari?

Frans (2015) menyatakan bahwa Ibu Jari atau yang biasa kita sebut jempol merupakan simbol pemimpin atau pejabat. Ibu jari merupakan yang utama dan induk dari keempat jari lainnya. Kenapa ini identik dengan simbol pemimpin atau pejabat? Karena ibu jari biasanya identik dengan persetujuan, kebagusan, dan sifat baik. Bukankah pemimpin biasanya menjadi tokoh sentral untuk urusan setuju dan tidak setuju pada sebuah keputusan? Pimpinan juga merupakan patron, dimana apa yang biasanya dianggap baik oleh pemimpin, juga diikuti oleh rakyatnya? Coba angkat jempol untuk menyatakan rasa setuju, maka keempat jari yang lain pasti menunduk. (Kompasiana.com)

Fachrul Razi, M.I.P (2014) juga menuturkan bahwa pemimpin yang bijak adalah orang yang merasa tidak pernah segan dalam memberikan apresiasi, pujian atau sanjungan terhadap orang lain, baik bawahannya, relasi mitranya ataupun lawannya sekaligus. Jiwa sportivitas dan objektivitas menunjukkan bahwa kita berjiwa besar dan cerdas dalam memberikan penghargaan buat orang lain yang telah melaksanakan tugas dengan baik, meskipun dalam wujud satu langkah kecil. Sikap bijak kita melalui simbol ibu jari akan memberikan feedback positif bagi kita maupun orang lain yang kita berikan apresiasi (appreciate) atau sanjungan. Ibu Jari dapat juga diartikan sebagai penghargaan (achievement) orang lain secara ikhlas dan terpuji. Ada nilai kebenaran dalam diri kita. Dan ada pertanggung jawaban (responsibility) baik vertical maupun universal. Pemimpin yang bijak adalah pemimpin yang melalui tahapan kesuksesan yang bermanfaat, artinya sukses yang bermanfaat disini adalah bermanfaat bagi diri dia sendiri, orang lain dan lingkungannya.

Ilustrasi lima Jari

Para penulis diatas mengaitkan pekerjaan ibu jari sebagai pemimpin terhadap jari lainnya. Senantiasa membantu jari lainnya dalam menjalankan pekerjaannya. Juga merupakan sebuah simbol persetujuan terhadap sesuatu, begitupun sebaliknya.

Pernahkan anda melihat fenomena dunia saat ini yang telah banyak mengeksploitasi para wanita ke dunia hiburan atau pekerjaan. Pernahkah anda mendengar penuturan seorang anggota parlemen Israel, Ayelet Shaked, yang mengatakan bahwa untuk menghancurkan Palestina maka bunuhlah/hancurkan para wanita/Ibunya. Mengapa dia memberikan perhatian khusus kepada para wanita/Ibu? Jawabannya adalah karena peran seorang Ibu sangat sentral dalam pembangunan pilar kehidupan, peradaban, pemimpin dan ideologi.

Itulah mengapa ketika Ibu jari kita terluka maka fungsi kerja-kerja jari tidak maksimal. Ketika para Ibu telah dieksploitasi, diberikan pekerjaan sekunder berlebih maka pernanan utama Ibu sebagai penolong dan pendidik anak dalam keluarga akan terabaikan akibatnya anak-anak mereka tidak sedikit yang rusak bahkan menjadi benalu dalam kehidupan.


Jari anak dan orangtua
Untuk membangun sebuah generasi yang kuat, maka perhatikanlah sesosok wanita/Ibu. Kita sering mendengar sesosok Imam Asy Syafi'i, Imam Abu Hanifah, Imam Malik, Imam Ahmad, Syaikh bin Baz, Syaikh As Sudais (Imam Masjidil Haram) yang pernah didoakan oleh ibunya agar menjadi seorang Imam Masjid Al Haram ketika semasa kecilnya, dan masih banyak tokoh-tokoh besar lainnya. Mereka semua terlahir menjadi orang kuat dan berpengaruh disebabkan atas Taufiq Allah melalui peranan Ibu mereka.

Di sekolah kadang kita melihat ada anak yang pandai dan ada yang tak pandai dalam mata pelajaran. Terkadang guru memberikan punishment ke anak yang tak pandai lagi nakal tersebut. Padahal menurut Prof. Azlan (2015) menyatakan bahwa kemungkinan terbesar penyebab anak menjadi nakal atau tak pandai dalam kelas disebabkan keluarganya yang berantakan. Guru perlu menyelidiki sebab anak itu nakal dan tak pandai. Bersilaturahim ke rumah anak tersebut, mencari data dan penyebabnya.

Ibu dan Anak
Oleh itu, mari menjadi Ibu yang melakukan peranan primer sebelum sekunder agar kelak terlahir generasi yang unggul untuk agama dan bangsa.


Sebagai orang yang telah atau sementara merasakan peranan Ibu, perlulah kita doakan Ibu kita agar senantiasa diberikan kebaikan, kesehatan, umur yang berberkah, pahala yang berlipat serta doakan agar dosanya diampuni dan dipertemukan di dalam SyurgaNya kelak. Kebahagiaan Ibu adalah bukan hanya tatkala melihat anak-anaknya sukses di kehidupan dunianya tetapi yang paling utama adalah anaknya itu bisa menyelamatkannya dari api Neraka dengan senantiasa mendoakannya.



Inilah bentuk bakti kita kepada mereka, semoga Allah selalu menjaga orang tua kita dan membebaskannya dari kepenatan hidup di dunia dan siksa neraka. Amin.

Sumber:

- Frans, E. S. 2015. Filosofi Lima Jari Tanganhttp://www.kompasiana.com/franselkasaputra/filosofi-lima-jari-tangan_550e4c1aa33311b02dba803a


Fachrul, R. M.I.P. 2014. Filosofi Kepemimpinan Sejati dari 5 Jari Tanganhttp://thefilosofi.blogspot.my/2014/06/filosofi-kepemimpinan-sejati-dari-5.html

- Azlan Z. 2015. Desain dan Implementasi Kurikulum.

Penulis:
M. Ammar Naufal, S.Pd.
(Mahasiswa Program Pascasarjana Mathematics Education Universiti Teknologi Malaysia)

Rabu, 16 September 2015

Motivasi Kebangkitan Keilmuwan Muslim Abad 21

Hari ini, pada zaman ini, di abad ke 21, pelajar-pelajar pada umumnya, pelajar muslim pada khususnya belajar, mengambil rujukan dari 'barat'. Tidak sedikit karya-karya/buku-buku yang jadi rujukan di Perguruan Tinggi adalah dari barat (non-muslim), padahal dahulu, mereka (barat/non-muslim) belajar, mengambil rujukan dari ilmuwan-ilmuwan muslim yang begitu dahsyat meletakkan pondasi keilmuan sebelum era modern hari ini. Tengoklah Ilmuwan muslim dahulu iaitu 

(1) Ibnu Rushd (AVERROES) (520 H) seorang yang mendalami banyak ilmu, seperti kedokteran, hukum, matematika, dan filsafat. Karya beliau 
·Bidayat Al-Mujtahid (kitab ilmu fiqih)
·Kulliyaat fi At-Tib (buku kedokteran)
·Fasl Al-Maqal fi Ma Bain Al-Hikmat Wa Asy-Syari’at (filsafat dalam Islam dan menolak segala paham yang bertentangan dengan filsafat). 


(2) Ibnu Sina (980-1037) dikenal juga sebagai Avicenna di Dunia Barat adalah seorang filsuf, ilmuwan, dan juga dokter kelahiran Persia (sekarang sudah menjadi bagian Uzbekistan). 



(3) AL-BIRUNI yang merupakan matematikawan Persia, astronom, fisikawan, sarjana, penulis ensiklopedia, filsuf, pengembara, sejarawan, ahli farmasi dan guru, yang banyak menyumbang kepada bidang matematika, filsafat, obat-obatan. 


(4) Al-Khawarizmi (230 M) adalah seorang tokoh Islam yang berpengetahuan luas. Pengetahuan dan keahliannya bukan hanya dalam bidang syariat tapi di dalam bidang falsafah, logika, aritmatika, geometri, musik, ilmu hitung, sejarah Islam dan kimia. Beliau juga adalah seorang guru Al Jabar di Eropa.

(5) Ibnu Ismail Al Jazari adalah Ilmuwan Muslim Penemu Konsep Robotika Modern. Al Jazari mengembangkan prinsip hidrolik untuk menggerakkan mesin yang kemudian hari dikenal sebagai mesin robot.

”Tak mungkin mengabaikan hasil karya Al-Jazari yang begitu penting. Dalam bukunya, ia begitu detail memaparkan instruksi untuk mendesain, merakit, dan membuat sebuah mesin” (Donald Hill).


dan masih banyak lagi ilmuwan-ilmuwan muslim yang tidak bisa kita sebutkan semuanya dalam risalah yang singkat ini. Intinya adalah bahawa dahulu Ilmuwan Barat merujuk kepada Ilmuwan-ilmuwan Muslim yang ada di Timur maupun Andalusia. Inilah masa keemasan Islam dan Keilmuan yang berkembang pesat di zaman itu.

Tapi kini, kita berada pada zaman yang terbalik. Benar, zaman yang dimana kiblat keilmuan hari ini berada di barat. Mengapa ini terjadi? Adalah karena kita tidak lagi menghargai yang namanya Ilmu, baik itu ilmu Din maupun Saintifik. Benar bahwa kita terlenakan dengan sejarah nenek moyang kita dahulu yang begitu gemilang dan sukses. Benar bahwa kita terlena, kita terlalu santai, kita merasa aman dengan kondisi hari ini. Kita di ninabobokan oleh mereka yang menjadi rujukan ilmu hari ini. Juga yang terpenting adalah anggapan bahwa Ilmu saintifik tak terlalu penting untuk di pelajari, biarlah barat mendalaminya sendangkan kita cukup mempelajari agama saja. Inilah anggapan yang keliru yang perlu diluruskan sebab nenek moyang kita telah mencontohkannya bahwa mereka ahli dalam ilmu Agama dan mereka pun ahli dalam Saintifik.

Oleh sebab itu, biarlah pada hari ini kita tetap mengambil ilmu dari mereka. Biarlah hari ini kita tetap menjadikan mereka sebagai rujukan ilmu pengetahuan. Biarlah hari ini kita bersabar belajar, mengambil ilmu dari mereka untuk kita bawa pulang, mengembangkannya, mengajarkannya kembali ke anak-cucu kita sebagaimana dahulu tawanan perang Al Badr di suruh mengajarkan baca tulis kepada 10 anak muslim agar bisa dibebaskan dari penjara.

Akhirnya, mari para pelajar muslim, bangkitkan semangat dalam mempelajari ilmu pengetahuan. Bekali diri anda dengan Agama agar tidak salah arah dalam pengembangan ilmu pengetahuan (Saintifik). Bercita-cita tinggilah sebelum menghadap kepada Allah agar memberikan jasa (amal jariyah) ilmu pengetahuan bagi Ummat agar kembali mulia, kembali bangkit, semakin takut kepada Rabnya, mengembalikan masa keemasan yang telah dijanjikan oleh Nabi kita Tercinta shallallahu 'alaihi wa sallam. Semoga dengannya, dengan niat yang ditujukan kepada Allah, menjadi amalan tersendiri kita sebagai penuntut ilmu yang berada dalam dunia Saintifik untuk turut andil dalam proses pembangunan Peradaban Islam. Amin ya Rabbal 'Alamin. Wallahu A'lam.

Malaysia, 16 September 2015 M/2 Dzulhijjah 1436 H
Abu Muhammad Al Makassary

---------------------------------
Sumber:

- http://danish56.blogspot.my/2011/05/inilah-10-ilmuwan-islam-paling-berjasa.html
- Al Bidayah wa Nihayah
- Berbagai bacaan